Jumat, 13 Mei 2016

Batik pekalongan

Batik Pekalongan Dan Penjelasannya

Motif Batik Jlamprang


Motif batik jlamprang merupakan salah satu motif batik yang paling populer di pekalongan, bahkan nama batik ini di jadikan salah satu nama jalan di pekalongan. Motif batik jlamprang termasuk ke dalam motif geometris hal ini di tandai banyaknya corak lingkaran pada batik jlamprang. Untuk warna motif batik jlmprang di dominasi dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau dan biru. Mengenai sejarahnya, banyak peneliti yang berpendapat bahwa motif yang ada pada batik jlamprang banyak di pengaruhi oleh agama islam dan juga kebudayaan hindu budha. Dikatakan bahwa motif ini di pengaruhi nuansa islam karena pada batik tidak terdapat corak manusia dan binatang, dimana dalam agama islam melarang adanya pembuatan corak manusia dan binatang. Apalagi nantinya kain di gunakan untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan ibadah.
Motif batik jlamprang juga di pengaruhi oleh kebudayaan agama hindu dan budha. Hal ini terlihat dari motif jlamprang yang bermotif kosmologis dengan dominasi pola ceplokan yang berbentuk lung lungan serta bunga padma. Pola ceplokan ini merupakan warisan sejarah dari agama hindu dan budha.
Motif Batik Encim

Motif batik lain yang ada di pekalongan adalah motif batik Encim. Motif batik encim banyak di pengaruhi dari kebudayaan luar seperti china dan belanda. Derasnya gelombang kedatangan orang asing  ke indonesia sekitar tahun 1910, sedikit banyak mempengaruhi dalam terciptanya motif batik Encim. Dahulu kala kaum tionghoa yang berada di bumi nusantara membuat batik perpaduan antara ukiran yang ada pada keramik china dengan hiasan buket khas negri kincir angin belanda. Dan hingga saat ini motif batik perpaduan ini lebih di kenal dengan batik encim.
Motif Batik Liong

Bila di cermati dari namanya, maka semua orang sepakat bahwa batik ini memiliki nuansa budaya china atau tionghoa yang sangat kental. Motif batik liong memang dipengaruhi budaya china, hal ini dapat di lihat dari corak batik yang bergambarkan naga berkaki. Seperti di ketahui naga merupakan bagian dari cerita sejarah yang berasal dari dataran negeri tirai bambu china. Pada batik liong juga di tambahkan corak berupa bunga-bunga sebagai pelengkap keindahan batik liong.

Batik Sudagaran

Batik Sudagaran:
Ketika pengguna batik meluas ke luar tembok kraton, timbulah yang disebut “batik sudagaran” dan “batik petani”. Kedua jenis batik ini bertolak dari batik kraton, tetapi kemudian berkembang secara terpisah dalam pengaruh lingkungan masing-masing. “Batik Sudagaran”  adalah wastra (sandangan atau jarit) batik yang dihasilkan oleh kalangan saudagar batik, polanya bersumber pada pola-pola batik kraton, baik pola larangan maupun pola batik kraton lainnya, yang ragam hias utama serta isen polanya digubah sedemikian rupa sesuai dengan selera kaum saudagar. Sedang batik petani merupakan hasil karya perajin yang tinggal dipedesaan.
 Adanya pola larangan mendorong para seniman batik di lingkungan kaum saudagar menciptakan pola-pola baru sesuai dengan selera masyarakat saudagar atau mengubah pola larangan sedemikian rupa sehingga pola-pola tersebut dapat dipakai oleh masyarakat umum. Mereka mengubah pola batik kraton-batik kraton dengan isen-isen yang rumit dan mengisi latar dengan cecek atau bentuk isen lain hingga tercipta batik saudagaran yang indah. Dikawasan kraton Surakarta, misalnya, pola-pola parang ditambah dengan ragam buket, buntal, atau ragam hias lain (gb. 45, dan gb. 46).
Warma merah khas buket-nya, yakni merah mengkudu dibuat di daerah Lasem, warna biru muda dibuat di Kudus atau Pekalongan, sedang warna soga untuk isen latar dikerjakan di Surakarta, Yogyakarta, atau Banyumas. Isen latar batik tiga negeri biasanya terdiri atas pola parang dan pola-pola kelompok geometri, antara lain kawung, ceplok, atau ragam hias ukel. Sarung tiga negeri (gb. 53) sangat digemari oleh masyarakat Belanda dan China di Jawa, bahkan masyarakat Melayu di Sumatera dan Malaya pun menyukainya.

Batik Kraton

Batik Kraton

Batik Motif Kraton
Pada zaman dahulu, pembuatan batik yang pada tahap pembatikannya hanya dikerjakan oleh putri-putri di lingkungan kraton dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerokhanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa dengan dilandasi permohonan, petunjuk, dan ridho Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya ragam hias wastra batik senantiasa menonjolkan keindahan abadi dan mengandung nilai-nilai perlambang yang berkait erat dengan latar belakang penciptaan, penggunaan, dan penghargaan yang dimilikinya.
Batik kraton adalah wastra batik dengan pola tradisional, terutama yang semula tumbuh dan berkembang di kraton-kraton Jawa. Tata susunan ragam hias dan pewarnaannya merupakan paduan mengagumkan antara matra seni, adat, pandangan hidup, dan kepribadian lingkungan yang melahirkannya, yaitu lingkungan kraton.
Pada awalnya pembuatan batik Kraton secara keseluruhan yaitu mulai dari penciptaan ragam hias hingga pencelupan akhir, kesemuanya dikerjakan di dalam Kraton dan dibuat khusus hanya untuk keluarga raja. Seiring dengan kebutuhan wastra batik di lingkungan Kraton yang semakin meningkat, maka pembuatannya tidak lagi memungkinkan jika hanya bergantung kepada putri-putri dan para abdi dalem di Kraton, sehingga diatasi dengan pembuatan batik diluar Kraton oleh kerabat dan abdi dalem yang bertempat tinggal di luar Kraton. Usaha rumah tangga ini berkembang menjadi industri yang dikelola oleh para saudagadan mulai berkembang di luar Kraton dalam bentuk batik Sudagaran dan Batik Pedesaan. Batik Kraton terdapat di Kasunanan Surakarta, Kasultanan Jogjakarta, Pura Mangkunegaran dan Pura Pakualaman. Perbedaan utama dari keempat Batik Kraton terletak pada bentuk, ukuran, patra dan nuansa warna soga (coklat).
Batik Kraton Jogjakarta
Desain Batik Kraton Jogjakarta, Grompol
Desain Batik Kraton Jogjakarta, Grompol
Jogjakarta sebagai ibukota dan kerajaan di Jawa, dikenal sebagai jantung seni batik. Desain batik Jogja sangat unik yaitu mengembangkan kombinasi beberapa motif geometris.Contoh desain Batik Jogja adalah: Grompol dan Nitik.
Grompol biasa digunakan untuk acara pernikahan. Grompol berarti datang bersama, menyimbolkan kehadiran bersama semua hal yang baik, seperti; nasib baik, kebahagiaan, anak dan perkawinan yang harmonis. Nitik merupakan motif yang banyak ditemui di Jogja. Selama perayaan tahunan kolonial (Jaarbeurs) di masa penjajahan Belanda, seorang produsen batik memberinama Nitik Jaarbeurs untuk motif yang mendapat penghargaan.
Batik Kraton Surakarta
Batik Surakarta: Sawat/Lar
Batik Surakarta: Sawat/Lar
Surakarta atau Solo adalah satu dari dua kesultanan Jawa, dengan segala tradisi dan adat-istiadat kraton yang merupakan pusat kebudayaan Hindu-Jawa. Kraton bukan hanya kediaman raja, tetapi juga pusat pemerintahan, keagamaan dan kebudayaan yang direfleksikan dalam seni daerah, terutama pada ciri batiknya: motif, warna dan aturan-aturan pemakaiannya. Di Solo terdapat beberapa aturan khusus tentang pemakaian batik, meliputi: satus tsosial pemakai dan acara khusus di mana batik harus digunakan dalam hubungannya dengan harapan atau berkah yang disimbolisasi melalui desain batik.
Desain batik Solo juga sering dihubungkan dengan kultur Hindu Jawa, simbol Sawat dari mahkota atau kekuasaan tertinggi, simbol Meru dari gunung atau bumi, simbol Naga dari air, simbol Burung dari angin atau dunia bagian atas dan simbol Lidah Api dari api. Beberapadesain tradisional yang dipakai pada acara-acara penting, misalnya: Satria Manah dan Semen Rante yang dikenakan pada saat acara lamaran pengantin.
Batik Surakarta, Desain Kain Panjang
Batik Surakarta, Desain Kain Panjang
Desain Kain Panjang dibuat dalam workshop Panembahan Hardjonagoro, Surakarta pada awal 80'an, bermotif kombinasi pengaruh beberapa daerah, tetapi secara keseluruhan gaya dan warnanya tipikal desain Solo. Kain panjang adalah kain dua kali setengah meter, yang digunakan sebagai sarung formal.
Batik Pura Mangkunegaran
Gaya motif Pura Mangkunegaran serupa dengan batik Karaton Surakarta, tetapi dengan warna soga cokelat kekuningan. Meski demikian batik pura Mangkunegaran selangkah lebih maju dalam penciptaan motif. Hal ini tampak dari banyaknya motif batik pura Mangkunegaran. Motif batik pura Mangkunegaran antara lain: buketan pakis (karya Ibu Bei Madusari), sapanti nata, ole-ole, wahyu tumurun, parang kesit barong, parang sondher, parang klithik glebag seruni, liris cemeng (karya Ibu Kanjeng Mangunkusumo).
Batik Pura Pakualaman
Pada awalnya wilayah Pakualaman merupakan bagian dari Kasultanan Yogyakarta. Pada tahun 1813 Kasultanan dibelah menjadi Kasultanan Ngayogjakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai akibat persengketaan antara Kasultanan Yogyakarta dengan Letnan Gubernur Jendral Inggris, Thomas Stamford Raffles. Oleh karena itu unsur budaya dan motif batiknya memiliki bayak persamaan.
Gaya motif pura Pakualaman berubah sejak Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Paku Buwono X. Sehingga kemudian motif batik Pakualaman kemudian tampil dalam paduan antara motif batik Yogyakarta dan warna batik karaton Surakarta. Motif batik Pakualaman diantaranya : candi baruna, peksi manyura, parang barong seling sisik, parang klitik seling ceplok, parang rusak seling huk, sawat manak, babon angrem.
Batik Keraton Cirebon
Cirebon dibawah pemerintahan Sunan Gunung Jati merupakan pusat kerajaan islam tertua di Jawa dan sekaligur merupakan pelabuhan penting dalam jalur perdagangan dari Persia, India, Arab, Eropa dan Cina. Kedua karatonnya, yaitu kasepuhan dan kanoman, menghasilkan batik dengan motif dan gaya yang tidak terdapat di daerah lain. Motif batik cirebon menunjukkan adanya pengaruh budaya Cina. Hal ini tampak pada bentuk penghiasan yang mendatar seperti lukisan ragam hias khas mega dan walasan dalam mega mendung dan wadasan. Beberapa contoh batik lainnya adalah : batik kereta kasepuhan, kapal kandas, peksi naga liman, cerita panji.
Batik Keraton Sumenep
Sumenep terletak di timur pulau Madura yang masih memiliki karaton yang masih terpelihara hingga sekarang. Berbeda dengan batik Madura batik sumeneb berwarna kecokelatan soga, hampir menyerupau batik dari karaton Mataram. Meski demikian juga terdapat batik biru tua, atau hitam dan putih namun dengan tambahan sedikit rona hijau dan merah. Ragam hias sawat dan lar diperkirakan merupakan pengaruh Mataram ketika Mataram menguasai Sumenep. Beberapa contoh batiknya adalah : lar, sekar jagad, lereng, limar buket, carcena lobang.
Batik Pengaruh Kraton
Batik Pengaruh Kraton menampilkan desain perpaduan ragam hias utama batik Kraton Mataram dengan ragam hias khas daerah yang dikembangkan sesuai selera masyarakat, lingkungan alam maupun budayanya.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung, seni dan budaya
Kraton Mataram tersebar luas dan Kraton merupakan pusat kegiatan negara, yaitu pemerintahan, agama dan seni-budaya. Oleh karena itu, batik dibawa serta oleh pengikut-pengikut raja. Beberapa penyebaran batik Kraton diantranya terjadi di Banyumas oleh Pangeran Puger yang masih kerabat Kasultanan Jogjakarta, di Madura pada saat Sultan Agung menaklukan Madura dan di Cirebon pada saat Sultan Agung mempersunting putri Kraton Cirebon, sehingga batik Kraton berkembang di Cirebon, Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya dan Garut. Komposisi warna pada batik Pengaruh Kraton sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat sekitar tempat batik tersebut berkembang.

Batik Kawung

 1. Batik Kawung
Batik Kawung
Motif batik Kawung konon diyakini diciptakan oleh salah satu Sultan Mataram, dan merupakan salah satu anggota Motif Larangan di samping 7 (tujuh) motif larangan lainnya seperti Parang, Parang Rusak, Cemukiran, Sawat, Udan Liris, Semen, dan Alas-alasan. Kawung juga termasuk desain yang sangat tua, terdiri dari lingkaran yang saling berinterseksi. Motif Batik Kawung dikenal di Jawa sejak abad 13 yang muncul pada ukiran dinding pada beberapa kuil/candi di Jawa, seperti Prambanan dan daerah Kediri. Selama bertahun-tahun, patra ini dilindungi hanya untuk keluarga kerajaan Kraton. Lingkaran-lingkaran, terkadang diisi dengan dua atau lebih tanda silang atau ornamen lain seperti garis-garis berpotongan atau titik-titik.
Pada awalnya batik kawung hanya dipakai di kalangan keluarga kerajaan, tetapi setelah Negara Mataram dibagi menjadi dua yaitu Surakarta dan Yogyakarta, maka batik kawung dikenakan oleh golongan yang berbeda. Di Surakarta batik kawung dipakai oleh golongan pangakat punakawan dan abdi dalem jajar priyantaka, sedangkan di Yogyakarta batik kawung dipakai oleh sentana dalem. Ada beberapa jenis motif batik kawung, antara lain kawung picis, kawung bribil, dan kawung sen.  Kawung picis diambil dari nama uang pecahan 10 sen, kawung bribil diambil dari nama uang pecahan 25 sen, sedangkan untung kawung sen diambil dari nama uang pecahan 1 sen.

Buah Pohon Aren (Kolang Kaling)
Buah Pohon Aren (Kolang Kaling)
Kata kawung sendiri bisa dihubungkan kata kwangwung, yakni sejenis serangga yang berwarna coklat mengkilap dan indah. Kata kawung bisa juga bermakna sebagai sejenis pohoh palem, aren atau buah dari pohon aren (kolang-kaling).  Bentuknya merupakan penampang lintang (irisan) dari buah tersebut yang memperlihatkan bentuk oval dari keempat bijinya. Beberapa berpendapat komposisi biji buahnya itu merupakan penyederhanaan dari 4 kelopak bunga lotus (teratai) yang sedang mekar atau juga merupakan pengembangan dari sisik ikan.
Sebagaimana kita mengenal buah aren atau kolang-kaling, buah tersebut berwarna putih yang tersembunyi di balik kulitnya yang keras. Hal ini dalam masyarakat Jawa mengandung filosofi bahwa kebaikan hati kita tidak perlu diketahui oleh orang lain. Disamping itu, pohon aren dari atas (ujung daun) sampai pada akarnya sangat berguna bagi kehidupan manusia, baik itu batang, daun, nira, dan buah. Hal tersebut mengisaratkan agar manusia dapat berguna bagi siapa saja dalam kehidupannya, baik itu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Makna lain yang terkandung dalam motif kawung ini adalah agar manusia yang memakai motif kawung ini dapat menjadi manusia yang ideal atau unggul serta menjadikan hidupnya menjadi bermakna.
Batik Motif Kawung Semar
Batik Motif Kawung Semar
Menurut penggolongannya batik kawung termasuk golongan motif geometris yang ciri khas motifnya mudah disusun, dibagi-bagi menjadi kesatuan motif atau pola yang utuh dan lengkap. Ditinjau dari pengertian bentuknya motif batik kawung adalah motif batik yang tersusun dari bentuk bundar lonjong atau elips, susunannya memanjang menurut diagonal miring kekiri dan kekanan berseling-seling serta di susun berulang-ulang.
Salah satu motif yang merupakan modifikasi dari motif kawung  adalah motif ceplok. Motif ini dihubungkan dengan kepercayaan orang Jawa (Kejawen) yaitu adanya pengakuan tentang adanya kekuasan yang mengatur alam semesta. Disini Raja dianggap sebagai penjelmaan para dewa, dan dalam melaksanakan tata pemerintahan raja dikelilingi oleh para pembantunya yaitu para bupati. Orang jawa memaknai ini sebagai “ kiblat papat limo pancer”. Empat buah motif bulatam yang merupakan lambang dan persaudaraan yang jumlahnya empat, dan satu motif titik ditengah dianggap sebagai pusat kekuasaan alam semesta. Dengan demikian motif batik kawung yang terdiri dan empat bulatan lonjong dengan titik pusatnya ditengah merupakan lambang persatuan seluruh rakyat, alam dan kepercayaan serta menggabungkan semua unsur kedelapan kesatuan tunggal yang selaras. Disamping merupakan tekad rakyat untuk mengabdi kepada raja atau ratunya, karena raja dianggap sebagai penjelmaan dewa yang merupakan pusat kekuasaan di dunia.
Dalam pewarnaan batik kawung tidak terbatas pada tiga warna (coklat, putih dan hitam atau biru) tetapi didasarkan pada bentuk filosofisnya. Hal ini ecara khusus dikaitkan dengan tiap arah mata angin yang mempunyai perlambang warna "sakti" sebagai berikut:

  • Warna putih lambang kejujuran (mutmainah) dan arah timur. Arah timur mengandung arti sebagai sumber tenaga kehidupan, karena arah dimana matahari terbit.
  • Warna hitam lambang angkara murka (lauwamah) dari arah utara. Arah utara mengandung arti sebagai arah kematain.
  • Warna kuning lambang budi baik (supiah) dari arah barat. Arah barat mengandung arti sumber tenaga yang berkurang, karena tempat tenggelamnya matahari.
  • Warna merah lambang pemarah (amarah) dari arah selatan. Arah selatan mengandung arti puncak segalanya, dihubungkan dengan zenith.

Dalam pengertian lain dijelaskan bahwa warna merah sebagai semangat kerja yang tinggi dan berani. Warna putih sebagai kesucian, bersih dan jujur. Warna hitam sebagai ketenangan, teguh dan damai, serta warna kuning sebagai penerang
Pada dasarnya bahwa batik klasik dapat menunjukan tanda-tanda bagi seseorang tentang statusnya. Pada batik kawung tanda tersebut berupa gambaran motif dan warna yang mengandung arti filosofis. Oleh karena itu untuk mengetahui peranan semiotik pada batik kawung perlu kiranya mengkaji berdasarkan aspek-aspek yang terdapat pada ketiga hubungannya, yaitu objek, media dan interpretasi.
Objek
Pada batik kawung terdapat aspek symbol, yaitu sistem tanda yang mengarah kepada suatu pengertian yang terkait dalam konvensi tertentu pada waktu itu. Symbol pada batik kawung dapat diartikan sebagai suatu wujud dari bentuk yang mempunyai maksud tertentu dalam menyatakan hal-hal yang tidak nampak. Maksud dan tujuan dari penciptaan motif pada batik kawung adalah didasar kan adanya "rasa nembah" (bersujud), mendidik berbuat sabar, hati-hati, teliti, tekun dan berbuat baik.
Media
Pada batik kawung terdapat aspek quali-sign, yaitu penampilan kualitas fisik dari bentuk motif kawung dan warnanya serta bahan yang digunakan. Pengertian motif pada batik kawung didasari oleh pohon aren yang buahnya disebut "kolang-kaling", dan bunga teratai yang mempunyai buah bentuknya bulatan lonjong sebanyak empat buah ditambah satu titik ditengahnya sebagai pusat. Warnanya terdiri dari tiga warna, yaitu putih yang berarti kejujuran, coklat berarti sabar dan biru wedel berarti keluhuran. Bahannya terbuat dari mori halus sebagai kain sinjangan yang dalam bahawa Jawa disebut jarit.
Interpretasi
Pada batik kawung terdapat aspek disent yang memberikan tanda sebagai arti kepada sesuatu yang boleh dan tidak boleh. Hal ini berhubungan dengan pemakaian batik kawung, yaitu yang berhak mengenakannya adalah para abdi dalem keraton yang kinasih, artinya abdi yang dekat dengan raja atau keluarga raja. Mulai abdi rendahan (emban dan punakawan) sampai yang berkedudukan tumenggung, dan dipakai dalam kegiatan tertentu seperti upacara ritual dan resepsi perkawinan.
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada batik kawung terdapat simbol-simbol atau tanda yang menunjukan kepada sesuatu yang bersifat transenden. Simbol tersebut tidak bisa difahami secara harafiah, tetapi didalamnya terkandung perlambangan aspek ketuhanan, falsafah hidup dan konsep keselarasan hidup. Hal tersebut merupakan keselarasan hidup yang lebih baik antara kehidupan duniawi dengan kehidupan dikemudian hari (akhirat).